Terkadang kita merasa GAGAL
Karena kita gagal untuk mencoba
Terkadang kita merasa TAKUT
karena masalah diri kitalah yang kita takuti
Terkadang kita merasa BOSAN
Kita merasa BOSAN untuk berusaha
Terkadang kita merasa SENDIRI
Kita telah menutup hati kita sendii
Terkadang kita merasa MALAS
Tubuh kitalah musuh utama kita sendiri
Terkadang kita merasa BERAT
Mungkin karena sifat malas kitalah kita terasa berat
Terkadang kita merasa NAFSU melihat lawan jenis
Otak kita saja yang kotor tak pernah terisi
Terkadang kita TERGESA-GESA
Karena waktu bergerak maju sedangkan kita terdiam
Terkadang kita pernah MENYERAH
Hah..Kita, kau saja yang menyerah sedangkan ku TIDAK
Aku akan MENERIMA sifat buruk ku diatas dan MENGUBAHNYA
Waktu memang tidak dapat kembali, Tapi AKU akan MENGHADAPINYA
AKU akan BERUSAHA dan BERTANGGUNGJAWAB atas apa yang ku LAKUKAN
SEKIAN SALAM SUKSES!!!!
Karena kita gagal untuk mencoba
Terkadang kita merasa TAKUT
karena masalah diri kitalah yang kita takuti
Terkadang kita merasa BOSAN
Kita merasa BOSAN untuk berusaha
Terkadang kita merasa SENDIRI
Kita telah menutup hati kita sendii
Terkadang kita merasa MALAS
Tubuh kitalah musuh utama kita sendiri
Terkadang kita merasa BERAT
Mungkin karena sifat malas kitalah kita terasa berat
Terkadang kita merasa NAFSU melihat lawan jenis
Otak kita saja yang kotor tak pernah terisi
Terkadang kita TERGESA-GESA
Karena waktu bergerak maju sedangkan kita terdiam
Terkadang kita pernah MENYERAH
Hah..Kita, kau saja yang menyerah sedangkan ku TIDAK
Aku akan MENERIMA sifat buruk ku diatas dan MENGUBAHNYA
Waktu memang tidak dapat kembali, Tapi AKU akan MENGHADAPINYA
AKU akan BERUSAHA dan BERTANGGUNGJAWAB atas apa yang ku LAKUKAN
SEKIAN SALAM SUKSES!!!!
Kenangan Musim Semi
Saturday, February 21, 2015
Posted by Novel fiksi ringan
Tag :
Puisi,
Rangkaian kata
Di saat mawar bermekaran di kota ini
Ku cium aroma segar nan indah saat merasakannya
Hari terasa sejuk saat itu
Hawa dingin terasa masih menusukku
Di kala musim semi
Aku tak tau bangku taman yang selalu ku duduki akan senyaman ini
Akan seindah ini kala kau memandang sekeliling
Terasa indah dengan keramaian berlalu lalang
Akan menjadi benih kehidupan yang indah
Sambil membawa catatan kecil aku menulis puisi
Mengungkapkan apa yang aku rasa
Menulis apa yang terbesit di kepala
Denga pena hitam aku menulisnya
Bangku taman ini terasa sepi jika hanya aku sendiri
Teringat waktu kita bersama dulu
Apakah kau juga merasakan musim semi yang sama
Memandang langit membayangkan kau tersenyum di surga sana
Ku cium aroma segar nan indah saat merasakannya
Hari terasa sejuk saat itu
Hawa dingin terasa masih menusukku
Di kala musim semi
Aku tak tau bangku taman yang selalu ku duduki akan senyaman ini
Akan seindah ini kala kau memandang sekeliling
Terasa indah dengan keramaian berlalu lalang
Akan menjadi benih kehidupan yang indah
Sambil membawa catatan kecil aku menulis puisi
Mengungkapkan apa yang aku rasa
Menulis apa yang terbesit di kepala
Denga pena hitam aku menulisnya
Bangku taman ini terasa sepi jika hanya aku sendiri
Teringat waktu kita bersama dulu
Apakah kau juga merasakan musim semi yang sama
Memandang langit membayangkan kau tersenyum di surga sana
Aku tak tau persis apa yang ku rasakan saat ini
Melihat kamu bersamaku membuat aku senang
Bisa bersamamu setiap saat membuatku senang
Bersama-sama denganmu di Kala itu
Aku tak tau persis apa rasa ini
Jantungku berdetak tidak seperti biasanya
Seakan aku merasa gagah saat kau menyandarku
Haruskah aku memberi taumu
Mungkin atau tidak
Apakah kau sadar akan perasaan ini
Apakah kau mengert apa yang ku rasakan
Apakah kau juga merasakannya
Akan terasa sakit hati ini
Apabila hanya aku yang merasakannya
Apabila aku tak mengungkapkannya
Apabila ku pendam dalam perasaan ini
Melihat kamu bersamaku membuat aku senang
Bisa bersamamu setiap saat membuatku senang
Bersama-sama denganmu di Kala itu
Aku tak tau persis apa rasa ini
Jantungku berdetak tidak seperti biasanya
Seakan aku merasa gagah saat kau menyandarku
Haruskah aku memberi taumu
Mungkin atau tidak
Apakah kau sadar akan perasaan ini
Apakah kau mengert apa yang ku rasakan
Apakah kau juga merasakannya
Akan terasa sakit hati ini
Apabila hanya aku yang merasakannya
Apabila aku tak mengungkapkannya
Apabila ku pendam dalam perasaan ini
Kalian bisa menyebutnya demikian
Suatu hari dimana kamu bisa menikmatinya
Suatu hari dimana kamu menyukainya
Suatu hari dimana kau merasa berarti
Hari tidak dapat dapat kita prediksi
Hari adalah sesuatu yang harus kau hadapi
Hari menyertaimu dalam setiap periode
Hari adalah sesuatu yang bisa kau perbuat akannya
Jika suatu hari itu tiba
Aku ingin merasakannya di musim semi
Dimana bunga-bunga bermekaran setiap tahunnya
Dimana aku dapat memandanginya setiap saat
Dan saat hari itu tiba
aku ingin merasakannya bersamamu
Ya kamu, yang ada didepanku kala itu
Membuatku merasakan Hari Yang Indah
Suatu hari dimana kamu bisa menikmatinya
Suatu hari dimana kamu menyukainya
Suatu hari dimana kau merasa berarti
Hari tidak dapat dapat kita prediksi
Hari adalah sesuatu yang harus kau hadapi
Hari menyertaimu dalam setiap periode
Hari adalah sesuatu yang bisa kau perbuat akannya
Jika suatu hari itu tiba
Aku ingin merasakannya di musim semi
Dimana bunga-bunga bermekaran setiap tahunnya
Dimana aku dapat memandanginya setiap saat
Dan saat hari itu tiba
aku ingin merasakannya bersamamu
Ya kamu, yang ada didepanku kala itu
Membuatku merasakan Hari Yang Indah
Tak terhitung waktu ,Yang telah ku jalani
Tak terhitung berapa tahun, Aku lelah menanti
Tak perlu ada kata lagi yang perlu disampaikan
Kini kau tepat dihadapanku
Melepas rindu dibenak kita masing-masing
Melepas kebahagian untuk saling ingin jumpa
Senangnya hati bertemu dengan dikau
Kau mungkin kita telah dewasa
Tak terhitung berapa tahun, Aku lelah menanti
Tak perlu ada kata lagi yang perlu disampaikan
Kini kau tepat dihadapanku
Melepas rindu dibenak kita masing-masing
Melepas kebahagian untuk saling ingin jumpa
Senangnya hati bertemu dengan dikau
Kau mungkin kita telah dewasa
Kala kita terbuai dengan nafsu duniawi kita
Kala kita terlena dengan keserakahan kita
Tanpa kita perhatikan alam sekitar kita,
Kita telah lupa dimana kita berpijak
Kita telah menutup mata hati kita
Kita telah menutup kedua telinga kita
Sehingga kita tidak mendengar rintihan bumi kita
Bumi kita kini tengah berduka
Kala kita terlena dengan keserakahan kita
Tanpa kita perhatikan alam sekitar kita,
Kita telah lupa dimana kita berpijak
Kita telah menutup mata hati kita
Kita telah menutup kedua telinga kita
Sehingga kita tidak mendengar rintihan bumi kita
Bumi kita kini tengah berduka
Ikrar Bocah Laskar Pelangi
Friday, May 2, 2014
Posted by Novel fiksi ringan
Tag :
Puisi,
Rangkaian kata
Tiga bocah berlari-lari
Tanpa tau arah pasti
Menuju matahari terbenam
Mereka pulang dengan tanpa beralaskan kaki
Bocah tersebut pulang ke gubuk masing mereka punya
Sambil mengeluh mampiri orang tua
Ayah Ibu mengapa demikian terjadi
Roti di atas meja keras bagaikan batu
Sang orang tua menangis
Sang ayah menggendong si anak
Nak lihat rembulan di atas langit
Mereka terus bersinar tanpa harus ada yang peduli
Dan bintang-bintang terus menemani hingga akhir fajar
Sang anak pun mulai berdiri tegak
Sambil menundukkan kepala ia pun menangis
Dalam tangisan ia berikrar
Ayah Ibu dengarlah apa diriku berkata
Tanpa tau arah pasti
Menuju matahari terbenam
Mereka pulang dengan tanpa beralaskan kaki
Bocah tersebut pulang ke gubuk masing mereka punya
Sambil mengeluh mampiri orang tua
Ayah Ibu mengapa demikian terjadi
Roti di atas meja keras bagaikan batu
Sang orang tua menangis
Sang ayah menggendong si anak
Nak lihat rembulan di atas langit
Mereka terus bersinar tanpa harus ada yang peduli
Dan bintang-bintang terus menemani hingga akhir fajar
Sang anak pun mulai berdiri tegak
Sambil menundukkan kepala ia pun menangis
Dalam tangisan ia berikrar
Ayah Ibu dengarlah apa diriku berkata
Makna Buku Sesungguhnya
Thursday, May 1, 2014
Posted by Novel fiksi ringan
Tag :
Puisi,
Rangkaian kata
Buku adalah jendela dunia yang mereka pikirkan
Buku hanyalah lembaran kertas berilmu
Dicurahkan oleh pemikiran sang penulis
Tidak kurang dan tidak lebih itulah yang mereka maknai
Tidak demikian menurut orang di pulalu sana
Tidak seperti kita yang pandai baca tulis
Mereka bagai pengemis buta yang mengais rezeki
Mereka enggan tuk tidak menolak hal baru
Berlinang air mataku mendengar hal itu
Melihat semangat api membara bocah-bocah haus akan ilmu
Seakan tak segan aku mengulur tanganku
Memberi mereka waktu untuk hal yang mereka mau
Buku hanyalah lembaran kertas berilmu
Dicurahkan oleh pemikiran sang penulis
Tidak kurang dan tidak lebih itulah yang mereka maknai
Tidak demikian menurut orang di pulalu sana
Tidak seperti kita yang pandai baca tulis
Mereka bagai pengemis buta yang mengais rezeki
Mereka enggan tuk tidak menolak hal baru
Berlinang air mataku mendengar hal itu
Melihat semangat api membara bocah-bocah haus akan ilmu
Seakan tak segan aku mengulur tanganku
Memberi mereka waktu untuk hal yang mereka mau
Simponi Laut yang Terkalahkan
Wednesday, April 30, 2014
Posted by Novel fiksi ringan
Tag :
Puisi,
Rangkaian kata
Hamparan laut biru yang luas
Membentang luas tanpa batas yang mengkekang
Terlihat berkilau bagai kelip bintang di bawah sinar mentari
Bagai berlian tersendiri yang tak terhitung nilainya
Kau dan Aku menyusurinya dengan sebuah bahtera raksasa
Dengan tak menganggap orang lain, Hanya Kita berdua
Di ujung kapal kita menerpa hembusan angin laut
Begitu indah Uraian rambutmu Ku pandang
Derasnya ombak menerpa karang
Keindahan terumbu karang nampak terlihat jelas
Keanekaragaman Biota laut menemani keindahan
Dengan Melodi ku diirngi alunan simponi gelombang laut
Membentang luas tanpa batas yang mengkekang
Terlihat berkilau bagai kelip bintang di bawah sinar mentari
Bagai berlian tersendiri yang tak terhitung nilainya
Kau dan Aku menyusurinya dengan sebuah bahtera raksasa
Dengan tak menganggap orang lain, Hanya Kita berdua
Di ujung kapal kita menerpa hembusan angin laut
Begitu indah Uraian rambutmu Ku pandang
Derasnya ombak menerpa karang
Keindahan terumbu karang nampak terlihat jelas
Keanekaragaman Biota laut menemani keindahan
Dengan Melodi ku diirngi alunan simponi gelombang laut