Posted by : Novel fiksi ringan
Tuesday, October 8, 2013
Aku ingat saat itu. Aku ingat
kejadian itu. Saat itu musim semi, pepohonan terlihat hijau, bunga-bunga mulai
bermekaran, seperti biasa aku berangkat ke sekolah dengan menggunakan sepeda
biru tua yang aku pancal setiap harinya menuju ke sekolah.
Hari itu dimana aku bertemu
dengan teman-temanku, seperti biasa hal yang pertama kali ditanyakan adalah
tentu saja pelajaran sekolah, seperti ada tugas sekolah atau tidak. Hari-hari
tersebut berjalan seperti biasa berulang setiap kalinya tanpa ada perubahan
selama siklusnya. Tentu aku tidak menerima hal tersebut dan tidak bisa
menolaknya.
Hari ini ajaran sekolah baru. Aku
memilih duduk di bangku belakang dekat jendela. Aku ingin melihat kegiatan yang
terjadi di halaman sekolah melihat siswa lain melakukan kegiatan olahraga.
Tentu saja aku tidak lupa memperhatikan guru mengajar dan teman-teman di
sekelilingku. Aku melihat sebagian teman ada yang memperhatikan guru yang
sedang mengajar dan sebagian lainnya sibuk sendiri dengan urusannya
masing-masing. Aku tidak mempermasalahkan hal tersebut karena aku sendiri
merasa kantuk dan setengah sadar memperhatikan guru didepan.
Kalau dipikir lagi cerita ini
terasa membosankan apalagi tidak adanya masalah yang diatasi dalam cerita ini.
Cerita ini terdengar ngelantur saat tidak adanya masalah yang dituju dalam
setiap alurnya. Oleh karena itu aku tambahkan masalah dalam cerita ini.
Cerita ini berawal saat salah
satu orang temanku menemui masalahnya dengan pacarnya.
Tentu masalah ini tidak begitu aku mengerti karena sampai sekarang aku belum mempunyai seorang pacar pun. Aku lanjutkan ceritanya, dia memiliki masalah dengan pacarnya karena pacarnya mengira bahwa dia tidak memperhatikannya selama ini. Dia tidak pernah mengirim kabar kepada pacarnya akhir-akhir ini.
Tentu masalah ini tidak begitu aku mengerti karena sampai sekarang aku belum mempunyai seorang pacar pun. Aku lanjutkan ceritanya, dia memiliki masalah dengan pacarnya karena pacarnya mengira bahwa dia tidak memperhatikannya selama ini. Dia tidak pernah mengirim kabar kepada pacarnya akhir-akhir ini.
Sebagai seorang teman aku harus
membantu salah satu temanku yang lagi dalam masalah. Aku mendengarkan keluhan
hatinya dan segala curhatnya sebagai pendengar yang baik. Tentu saja aku
memberikan masukan-masukan kepadanya agar masalahnya cepat selesai. Aku memberikan
dia saran untuk menemuinya dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Dia
menerima saranku dan hendak melakukannya.
Dia pun menemui pacarnya dan
menjelaskan alasan mengapa ia selama ini tidak memberikan kabar dan bersifat
dingin. Tentu pacarnya tidak semudah itu percaya kepadanya, oleh karena itu
temanku membawa aku ke pacarnya sebagai saksi. Dengan adanya penjelasanku
pacarnya pun mulai percaya. Tentu saja pacarnya tidak semudah itu memaafkannya.
Pacarnya pun mengajak dia untuk menjenguk Ibu temanku yang ada di rumah sakit.
Alasan temanku tidak memberi
kabar dan selalu bersikap dingin kepada pacarnya adalah karena ibunya sedang koma
di rumah sakit. Ia cenderung lebih dekat dengan ibunya, mendengar hal tersebut
dia pun merasa sedih. Dia tidak ingin menyusahkan orang terdekatnya dan
memendam masalah ini sendirian. Ia sadar bahwa perbuatannya salah justru malah
lebih menyusahkan orang terdekatnya. Karena itu dia menceritakan masalah ini
pertama kali kepada ku sebagai teman terbaiknya.
Kami bertiga pun sepulang sekolah
lalu berangkat menuju ke rumah sakit tempat ibu temanku dirawat. Tidak lupa
ditengah jalan kami membelikan ibunya buah-buahan di toko dekat rumah sakit.
Setelah itu kami menuju rumah sakit.
Setelah tiba di rumah sakit, kami
pun bertanya pada salah seorang suster di resepsionis. Kami bertanya dimana ibu
temanku dirawat. Suster itupun menjawab bahwa pasien tersebut sudah dipindahkan
dari ruang IGD ke Ruang perawatan. Kami pun merasa bahagia mengetahui ibunya
telah melewati masa-masa kritisnya. Kami pun segara menuju ke ruangan yang
dimaksud. Mengetahui ibunya yang mulai membaik, dia pun menangis terharu sambil
memeluk ibunya. Ibunya pun menangis bahagia mengetahui anaknya datang menjenguk
membawa teman-teman baiknya. Tidak lupa kami memberikan oleh-oleh yang kami beli
di tengah jalan. Dia merasa bahagia memiliki pacar yang pengertian dan teman
yang membantu.
Ditengah jalan kami pulang,
temanku pun bertanya kepada diriku kapan aku memiliki seorang pacar. Pacar
temanku pun melanjutkan sautannya dan bertanya, “maukah kau ku perkenalkan
dengan salah seorang temanku ? Temanku ada yang suka tipe cowok seperti kamu
yang setia kawan.” Aku pun menjawab sautan mereka dengan santai, “tidak! Terima
kasih, aku ingin mendapatkan orang yang berarti bagiku dengan kemampuanku
sendiri.” Temanku pun menjawab,” aku berharap kamu punya pacar yang pengertian dan
selalu setia sepertimu sobat.” Aku pun menjawab harapan tersebut dengan
senyuman manis penuh harap juga.
Related Posts :
- Back to Home »
- Cerpen »
- Cerita JODI (Jomblo Abadi) : "Menjenguk Ibu Teman yang Sakit"
Post a Comment